jalan menuju keberhasilan

Senin, 15 Agustus 2011

VIDEO: Ikan 'Kepala Buaya' di Kolam Majapahit

0 komentar

Ikan Berkepala Buaya (topik pagi-antv)

Seekor ikan dengan kepala mirip buaya ditemukan Suparto, warga Mojokerto, Jawa Timur. Ikan ini ditemukan pada Selasa, 19 Juli 2011 di Kolam Segaran yang merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit.

Suparto menemukan ikan ini saat memancing. Dia mengaku terkejut karena menduga umpan yang dia lempar dimakan oleh buaya. Tapi, ternyata yang memakan adalah seekor ikan.

Suparto sebenarnya bukan orang yang pertama kali menemukan ikan jenis ini. Tahun 2009 lalu warga Sukolali, Surabaya juga menemukan ikan sejenis. Selain itu, Jawa Barat, dan di Tegal pada 2011 ini juga ditemukan ikan berkepala mirip buaya ini.

Ikan berkepala mirip buaya ini adalah jenis
alligator gar atau bahasa latinnya Lepisosteusidaeyang merupakan spesies asli Amerika Utara. Ikan ini merupakan predator yang sangat agresif memangsa ikan-ikan kecil lainnya.

Belum diketahui, bagaimana ikan-ikan ini bisa sampai ke sungai-sungai di Indonesia, termasuk di kolam peninggalan Majapahit ini.

newer post

Misteri Kura-kura Selamat dari 'Kiamat'

0 komentar

Kura-kura bertahan, Dinosaurus tidak (Yale Peabody Museum)

Dinosaurus mungkin pernah menjadi penguasa dunia dengan badan besar, cakar tajam, dan giginya yang mengerikan. Namun, saat mereka akhirnya punah dari muka Bumi, kura-kura Boremys yang sederhana justru selamat dari serangan meteorit yang menghantam Bumi 65 juta tahun lalu.

Buktinya adalah sebuah fosil yang ditemukan oleh palaeontolog Amerika Serikat di formasi batuan di North Dakota dan Montana menjadi bukti. Fosil tersebut diperkirakan milik mahluk yang hidup di periode pasca serangan meteor: Kura-kura air.

Apa rahasianya Kura-kura bisa bertahan hidup? Menurut pada ilmuwan, itu bukan karena cangkangnya yang keras. Tapi, fakta bahwa mereka tidak serakah.

Metabolisme mereka yang lamban menjadi kunci bertahan hidup di periode pasca serangan meteor. Di mana hanya sedikit makanan yang tersisa. Mereka juga terlindungi oleh air, yang jadi satu dari dua habitat mereka.

"Kura-kura adalah hewan yang tangguh, mereka mempu bertahan di masa-masa sulit," kata Tyler Lyson dari Yale University kepada
LiveScience. Selain itu, "hewan yang hidup di air terlindungi dari apapun yang bisa membunuh tanaman darat dan Dinosaurus."

Kebiasaan kura-kura juga jadi kunci penting yang menyelamatkan. Saat kondisi dingin, kura-kura akan berhibernasi. Namun, ketika sangat panas atau kering, kura-kura air akan mengubur dirinya di lumpur -- menunggu kondisi normal. Ini yang mungkin mereka lakukan saat periode kemusnahan Dinosaurus.

Meteor penyebab mass extinction, fenomena musnahnya dinosaurus.

Untuk diketahui, meteorit yang memusnahkan Dinosaurus memiliki lebar antara enam sampai sembilan mil, yang menghantam Semenanjung Yukatan, di selatan Meksiko. Tubrukan itu melepaskan sekitar 100 juta megaton energi. Masa itulah yang kemudian dikenal sebagai
K-T Boundary -- periode kemusnahan massal mahluk hidup.

Para ilmuwan menemukan binatang-binatang tang selamat dari 'kiamat' itu dengan cara mencarinya di antara bebatuan yang memiliki keunikan geologis.

Kala itu, hampir seluruh hewan darat tersapu bersih, musnah. Termasuk jenis penyu. Namun, Kura-kura Boremys -- khususnya famili Baenid luput. "Hewan kecil yang memiliki metabolisme lambat dan hidup di air, mereka bertahan dengan baik di K-T
Boundary," tambah Lyson. "Di dalam air, sebelum dan setelah tubrukan meteor, semua berlangsung seperti biasa."

Namun, Kura-kura Boremys pun akhirnya menyerah pada alam dan waktu. Mereka akhirnya punah sekitar 40 juta tahun lalu -- setelah sempat hidup sekitar 85 juta tahun di Bumi.

Para ilmuwan menduga, hewan tersebut punah karena dimangsa predator. Salah satu alasannya, mereka tak bisa menyembunyikan kepalanya di cangkang -- kemampuan yang dimiliki Kura-kura modern.

newer post

Ikan ini Ditemukan Hidup, 4 Bulan Usai Gempa

0 komentar

Ikan mas koki (sickgoldfishcare.com)

Dua ekor ikan mas koki berhasil bertahan hidup di dalam akuarium setelah 134 hari tidak ada yang memberi makan atau membersihkan air akuarium tersebut. Mereka ditemukan oleh Vicky Thornley, pemilik ikan mas koki yang untuk pertamakalinya diperbolehkan kembali ke kantornya yang hancur berantakan di pusat kota Christchurch, Selandia Baru.

Shaggy dan Daphne, nama kedua ikan mas koki itu, kemungkinan bisa bertahan karena memakan lumut atau ganggang. Mereka kemungkinan juga mendapatkan sumber nutrisi lain, karena tiga rekan mereka yang lain tidak ditemukan di akuarium tersebut.

“Ketika gempa terjadi, saya mengenggam akuarium penyimpanan ikan itu, baik untuk mencegahnya jatuh pecah dan agar saya tetap bisa berdiri,” kata Thornley seperti dikutip dari
Independent, 1 Agustus 2011. “Namun setelah itu, pikiran saya langsung tertuju ke anak saya yang ternyata tidak mengalami luka-luka,” ucapnya.

Berhubung sebagian besar kota itu hancur, baru beberapa waktu lalu ia diperkenankan kembali mendatangi kantornya. “Itupun hanya boleh satu jam dan di bawah pengawasan,” ucap Thornley.

Thornley menyebutkan, ketika itu ia tidak melihat akuarium ikan mas koki itu karena berasumsi bahwa hewan peliharannya itu telah tewas. Namun ia baru menyadari ketika seorang petugas menyerukan: “Hei, ada ikan di sini dan masih hidup.”

“Seketika itu saya langsung terkejut,” kata Thornley. “Ikan mas itu tampak pucat, tetapi dalam kondisi sehat.

Menurut Paul Clarkson, kurator dari Monterey Bay Aquarium di California, Amerika Serikat, ikan mas itu beruntung karena tinggal di akuarium yang besar yang memiliki banyak lumut dan ganggang yang tumbuh di bebatuan dan dinding aquarium. “Berhubung tidak ada listrik untuk mengaktifkan penyaring air, bakteri yang tumbuh secara alami telah membantu ikan mas itu tetap hidup dengan menjaga kondisi air,” ucapnya

newer post

Ikan Lele Albino Raksasa Cetak Rekor

0 komentar

Lele Albino Raksasa (dailymail.co.uk)

Seekor ikan lele albino raksasa ditemukan oleh Chris Grimmer di Sungai Ebro, dekat Barcelona, Spanyol. Ikan ini memecahkan rekor sebagai ikan lele albino terbesar yang ditangkap melalui pemancingan.

Saat itu, Chris mengikuti sebuah tur memancing. Awalnya, dia tidak menyangka ikan yang memakan umpannya berukuran raksasa. Chris memerlukan waktu sekitar 30 menit untuk menggulung senar pancingnya setelah umpan yang dia lempar disambar ikan ini.

"Butuh waktu lama untuk menariknya, seperti menarik sebuah bus," kata Chris sebagaimana dimuat laman
Daily Mail.

"Setelah itu, saya sangat lelah dan nyaris tak bisa berjalan, tapi tidak sia-sia."

Ikan lele itu kemudian ditimbang. Ternyata, beratnya sekitar 88 kg dengan panjang 2,4 meter. Setelah penimbangan, ikan ini kemudian dilepaskan kembali ke sungai.

Sementara itu, pemandu yang mengorganisir tur itu, Ashley Scott mengatakan sangat yakin tangkapan itu telah memecahkan rekor ikan lele terbesar melalui cara pemancingan. "Kami tahu catatan rekor ikan lele, jadi kami langsung menyadari bahwa itu adalah rekor," kata Scott.

Rekor ikan lele albino terbesar yang berhasil ditangkap sebelumnya dipegang oleh Sheila Penfold dari London, Inggris. Dia berhasil menangkap seekor ikan lele albino seberat 86 kilogram pada Oktober tahun lalu.

Namun, ikan lele terbesar yang pernah ditangkap di muka bumi adalah ikan lele raksasa seberat 293 kg. Ikan ini tertangkap di Sungai Mekong, Thailand pada 2005.

newer post

Kelelawar Penghisap Darah Mulai Incar Manusia

0 komentar

Meski kelelawar jenis ini umumnya ditemukan di Meksiko, Brazil, Chile, dan Argentina, namun dari penelitian, kawasan penyebaran hewan ini terus meluas akibat perubahan iklim. (sciencemag.org)

Seorang remaja asal Meksiko menjadi orang pertama di Amerika Serikat yang tewas akibat kelelawar penghisap darah. Yang mengkhawatirkan, Centers for Disease Control (CDC) menyebutkan bahwa kelelawar itu kemungkinan akan menyebar ke seluruh negeri.

Pekerja migran berusia 19 tahun itu terkena rabies akibat digigit kelelawar di bagian tumitnya, 15 Juli 2010 lalu. Ia digigit di Michoacan, 10 hari sebelum berangkat ke Amerika Serikat untuk bekerja di pabrik gula, di Louisiana.

“Kasus ini merupakan kasus pertama di mana manusia tewas akibat gigitan dan terkena virus rabies yang ditularkan oleh kelelawar penghisap darah di Amerika Serikat,” sebut laporan CDC, seperti dikutip dari
Fox News, 15 Agustus 2011.

Dilaporkan, remaja itu jatuh sakit dua minggu setelah digigit karena tidak diberi vaksinasi rabies. Ia sendiri pergi berobat dengan keluhan sakit di bahu, kelelahan, gangguan di mata kiri, dan mati rasa di lengan kiri. Selain itu, ia juga mengalami masalah pernafasan dan panas tinggi.

Pada 20 Agustus, ia secara resmi didiagnosa menderita rabies. Dari penelitian terhadap jaringan otak setelah kematiannya, dikonfirmasikan bahwa penyebabnya adalah varian virus rabies yang disebarkan oleh kelelawar penghisap darah.

Meski kelelawar jenis ini umumnya ditemukan di Meksiko, Brazil, Chile, dan Argentina, namun dari penelitian, kawasan penyebaran hewan ini terus meluas akibat perubahan iklim.

“Meluasnya penyebaran kelelawar penghisap darah ke kawasan Amerika Serikat kemungkinan akan memicu meningkatnya serangan hewan ini terhadap manusia dan hewan, termasuk hewan peliharaan, ternak, dan hewan liar,” sebut CDC.

Selain itu, CDC menyebutkan, kelelawar ini juga akan mengubah dinamika dan ekologi virus rabies di kawasan selatan Amerika Serikat.

newer post

Peter Odemwingie, Calon Pengganti Crouch

0 komentar
Peter Odemwingie (Guardian)


Tottenham Hotspur masih berusaha untuk menambah koleksi pemain mereka. Lini depan dinilai perlu mendapatkan tenaga tambahan.

Striker West Brom, Peter Odemwingie, kini ada dalam radar Spurs. Manajer Spurs, Harry Redknapp, menilai Peter Odemwingie punya potensi besar yang bisa membantu Spurs meraih hasil yang lebih baik.

Untuk mendapatkan pemain Nigeria kelahiran Usbekistan itu, Spurs perlu menjual Peter Crouch. Waktu mereka memang tidak banyak karena bursa akan tutup akhir Agustus ini.

Musim lalu adalah musim pertama Odemwingie di Inggris. Ia mencetak 15 gol untuk West Brom. Tiga musim sebelumnya pemain berusia 30 tahun itu memperkuat Lokomotiv Moscom dengan koleksi 21 gol dari 75 pertandingan.
newer post

Masjid Sultan Riau Dibangun Menggunakan Putih Telur

0 komentar

Masjid Sultan Riau di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau yang dibangun menggunakan campuran putih telur memiliki mushaf Al-Quran tulisan tangan yang berusia ratusan tahun.

newer post
newer post older post Home