Wayang Golek Pantun dikembangkan oleh Abah Soma pada 1975 di kediamannya, Kampung Bugel, Desa Pakutanabdang, Ciparay, Kabupaten Bandung. Tujuannya agar wayang golek memiliki kisah dan karakter khas Sunda. Misalnya, lakon diambil dari cerita Lutung Kasarung, Sangkuriang, atau Kerajaan Galuh.
Menurut Pemerhati Wayang, Tutun Hatta Saputra, kini jejak Wayang Pantun hanya tinggal wayang dan nayaga (pemain gamelan). "Sejak Abah Soma meninggal tidak pernah pentas lagi. Wayang-wayangnya kini nganggur," ujar Tutun.

Satu set Wayang Pantun ketika masa jayanya ada sekitar 101 sosok. Namun sejak Abah Soma meninggal, wayang tersebut kini hanya tinggal 66 sosok.
"Mungkin banyak orang yang senang, jadi diambilin," ujar Tutun.
Saat ini 66 sosok Wayang Pantun sudah berada di tangan Tutun. Tutun menjaga ke-66 koleksi tersebut agar tidak diambil sembarang orang lagi.
"Wayang ini saya ambil alih, sayab tebus dan kemudian menjadi koleksi saya. Karena saya ingin tetap melestarikan wayang ini," terang Tutun.
Pada penampilannya, Wayang Pantun sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Wayang Golek. Hanya dalam Wayang Pantun, sosoknya adalah seperti manusia keseharian biasa yang mewakili kalangan masyarakat Sunda.
"Sosoknyalebih ke manusiawi, mukanya mirip ke manusia asli, pakaiannya pakaian sunda," kata Tutun.
Wayang Pantun Daya Cipta asuhan almarhum Abah Soma ini biasanya pentas di acara resepsi pernikahan atau khitanan. Mereka biasa bermain semalam suntuk, apalagi pada acara ruwatan.
Tutun berharap, pemerintah bisa terjun untuk menghidupkan kembali dan melestarikan Wayang Pantun. "Pemerintahlah yang berkewajiban menghidupkan kembali dan melestarikannya. Di antaranya ya, dengan memasukan materi Wayang Pantun pada kurikulum seni dan budaya pada SMA, SMK, atau kalau memungkinkan ya dipentaskan lagi," ujar Dosen STSI ini.















0 komentar:
Posting Komentar